[FF] Jalan Alternatif


Author :  dhila_アダチ

Title : Jalan Alternatif

Cast : SHINee

Genre : A bit horror

Length : drabble (740 words)

Rating : PG

Taemin menegakkan punggungnya. Ia baru saja menungkupkan wajahnya di balik tas ransel yang digunakannya sebagai bantal. Posisi tidurnya mungkin dianggap sebagian orang sebagai posisi tidur yang sangat tak nyaman. Tapi Taemin malah menomorsatukan posisi tidur tersebut sebagai posisi tidur ternyamannya saat dalam perjalanan seperti ini.

Minho menyetir mobil, sedangkan Jinki menjadi pemandu jalannya.

Taemin melihat keluar. Langit sudah mulai gelap, namun ia masih bisa melihat matahari yang sudah tinggal setengahnya di ufuk barat. Langit memanjakan setiap mata yang memandangnya dengan gradasi warna lembayung yang perlahan menjadi hitam.

Continue reading

[Diary] Preambule Si DokMud


Bismillah…

Assalamu’alaikum semuanyaa..uyeyelalala.. Alhamdulillah, PPGD udah kelar. PPGD itu berupa orientasi bagi para dokmud a.k.a dokter muda a.k.a co-ass a.k.a. koas yang mau masuk ke RS untuk menjalankan pendidikan profesi Dokter di rumah sakit pendidikan. PPGD-nya berlangsung 6 hari. Dan alhamdulillah lancar walau malemnya harus rela tepar karena pergi pagi pulang sore.

Continue reading

[FF] Berhasil!


Author                  : dhila_kudou

Cast                       : Choi Minho (12 th), OC

Genre                   : Mystery (?)

Rating                   : PG-17

Type                      : Alternative Universe (AU)

Length                  : Ficlet

———–

Tetesan cairan itu, tak lain adalah sisa-sisa tenaga yang berusaha ia keluarkan dari tubuhnya yang ringkih itu. Bahkan warnanya sudah tak jernih lagi. Mengucur perlahan, menjadi genangan merah pekat di lantai semen apartemennya.

Di sudut ruangan itulah, Minho kecil meringkuk ketakutan. Matanya tetap awas memandangi lelaki yang umurnya 20 tahun lebih tua darinya. Bibirnya bergetar. Pekatnya malam ditambah guyuran hujan di luar apartemen membuat apartemen ini menjadi mimpi terburuk sepanjang hidupnya.

Continue reading

[Fiction] Senja di Balik Jendela Perpisahan


Fiction lain dari serial ‘Cuaca dan Benda Saling Berbisik

Hujan di Balkon Pengakuan | Sapa Terik untuk Bangku Panjang | Hujan di Balkon yang Berbeda

——————————————-

Derap langkah terdengar lamat-lamat di luar kamar. Aku tahu itu, tapi tak cukup penasaran untuk langsung mengintip keluar. Mataku masih terpaku ke barisan laman yang muncul di layar laptop.

Sebuah ketukan menghentikan kegiatanku.

“Boleh kakak masuk?”

Aku tak membalas permohonan izin tersebut, karena aku tahu pasti disahut atau tidak kakakku pasti segera masuk saja ke dalam kamarku yang berantakan ini.

“Sibuk?”

“Enggak juga.”

Dia baru saja pulang dari toko kue. Kemarin dia sempat bercerita kalau dirinya sudah tidak kuat untuk ‘berpuasa’ kue lembut bertabur keju yang menjadi menu andalan utama di toko dekat persimpangan jalan. Aku mengiyakan saja. Toh aku tak begitu paham soal kuliner dan rasa favoritku blueberry, bukan keju. Jadi aku tak ikut terpancing dengan curhatnya selain…

“Ini, kue blueberry yang kamu minta kemarin. Ternyata blueberry gak kalah enak rasanya.”

…yah, aku memintanya untuk membelikan kue untukku juga.

Kubiarkan laptop menyala tanpa ada yang memperhatikannya. Sekarang aku menuju karpet krem pucat yang sudah lebih dahulu diduduki oleh kakakku. Dia menyodorkan kue pesananku dengan tangan kirinya sembari menggigit kue kejunya. Namanya apa aku tak peduli, yang jelas ada taburan keju di atasnya.

“Kakak diterima kerja di Surabaya.”

Itu topik utama pembicaraannya hari ini.

“Oh, lalu?”

“Ya, itu saja. Hehe,” jawabnya dengan cengiran yang tak dibuat-buat.

Kami melanjutkan kegiatan mengunyah kue kembali.

“Kamu gak ngasih komen apa gitu ke kakak?”

Aku menatapnya sekilas, lalu kembali menatap lelehan selai blueberry kue yang tengah kupegang, “Enggak, bingung juga mau ngomen apa. Selamat ya.”

Aku tersenyum. Tapi dia menangkap ada keganjilan dari senyum yang baru saja kuhadiahkan untuknya.

“Kamu terlihat gak setuju sepertinya.”

“Enggak kok. Aku setuju. Yang jelas aku seneng dong kalau kakakku dapet kerja. Di Surabaya pula. Pasti seru di sana.”

Aku mengutarakannya tanpa sedikit pun melihat wajah kakakku. Dan itu membuatnya bertanya kembali.

“Lalu, kenapa kamu lesu begitu?”

“Gimana gak lesu? Itu artinya kakak gak bisa sering pulang ‘kan?”

Kurasakan suaraku bergetar ketika mengucapkan kalimat yang terakhir itu. Kue yang tengah kupegang menciut karena begitu eratnya genggamanku. Kakak menatapku cukup lama sebelum akhirnya menghabiskan potongan kuenya yang terakhir.

“Kamu ini, udah 20 tahun masih juga cengeng gak bisa jauh dari kakak. Gimana mau berkembang?” tanyanya ringan.

Benar, itu dia. Aku setuju. Aku harus berusaha untuk bersikap dewasa. Aku dan dia bukan anak kecil yang harus kemana-mana bersama. Aku dan dia sudah berada di persimpangan jalan. Harus mencari jalan selanjutnya masing-masing. Tidak boleh lagi saling ketergantungan.

Salah satunya tentang pekerjaan ini. Aku masih kuliah di Lampung. Kakakku akan merantau dan bekerja di Surabaya. Tak masalah hanya beda kota beda pulau. Tak masalah.

Sial.

Dia berdiri sambil berjalan mendekati jendela. Sementara aku membereskan plastik-plastik kue yang bertebaran di tikar.

“Senja hari ini indah ya. Langitnya cerah.”

Tapi hatiku mendung, Kak.

“Lihat! Awannya mengitari matahari gitu. Bagus buat difoto.”

Sedangkan aku tak lagi ‘dikitari’ olehmu. Bukan hal yang bagus untuk dikenang.

“Do’akan kakak berhasil kerja di sana, ya!”

Dan do’akan juga adikmu ini berhasil melepas keberangkatanmu ke Surabaya besok pagi, ya.

“Aku tau, kamu pasti berat melepas kakak lagi. Ayo ngaku!”

Sial!

Aku berdiri, lalu ikut berdiri di sebelah dirinya. Mencoba menatap senja yang disuguhkan oleh matahari yang akan terbenam di ufuk barat sana. Siapa tahu aku bisa menemukan kebahagiaan dari sana.

Kurasakan tepukan ringan di puncak kepalaku. Aku beralih menatap wajahnya. Kumisnya sudah dicukur pagi tadi dan dia tampak tampan sore ini.

Tampan, itu tandanya dia tak lama lagi akan berkeluarga.

“Satu lagi! Do’ain kakak ketemu jodoh ya di sana. Kan lumayan, kamu bisa punya ponakan cepet.”

Sial.

Itu artinya aku tak bisa lagi manja-manjaan dengan kakakku satu-satunya ini.

“Kan? Gak seneng gitu kelihatannya. Ya..ya…Kakak do’ain juga kamu bisa ketemu jodoh cepet di kampus. Aamiin…”

Aku menarik napas dalam. Senja hari ini sebenarnya begitu indah. Aku menyukai senja dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Matahari yang perlahan berpendar cahayanya dari kuning emas menuju merah lembayung. Awan-awan yang kemerahan. Pawai burung walet melintasi langit bergradasi biru dan merah. Aku menyukainya.

Tapi tidak untuk hari ini. Itu karena senja ikut bergabung merayakan perpisahanku dengan kakakku. Senja kali ini berkhianat kepadaku.

“Mau dikasih oleh-oleh apa minggu depan? Kakak ada rencana balik lagi ke sini, soalnya masih ada urusan administrasi di kampus.”

“Oleh-olehnya kakak aja,” jawabku jujur.

“Ugh, so sweet…”

Aku memiringkan kepalaku malu-malu untuk menatapnya, lalu kembali menatap rumah tetangga yang baru saja menghidupkan lampu teras luar rumahnya. Tiba-tiba saja wajah kakakku mengambil alih pemandangan tersebut. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menatapku.

“Cie…yang nangis…,” ledeknya sambil tertawa.

Aku buru-buru meraba pipiku. Sial, sejak kapan aku menangis? Kenapa aku gak berhasil menyembunyikannya, setidaknya sampai kakakku keluar kamar nanti?

Dan sudah berapa umpatan yang kukeluarkan dalam hati?

Suara adzan maghrib mengakhiri senja di hari Minggu ini. Kakakku berinisiatif menutup jendela kamarku sembari membiarkanku mematikan laptop.

“Kakak tunggu di bawah ya. Kita shalat berjama’ah trus makan. Jangan lama-lama. Kakak udah laper soalnya.”

Aku menganggukkan kepalaku dua kali. Dia tersenyum, lalu berbalik keluar kamar.

Kutatap jendela sekali lagi. Merahnya senja masih berusaha masuk melewati tirai yang sedikit tersingkap. Tidak ada apa-apa. Tidak ada pengulangan. Hari ini tetap menjadi hari terakhirku untuk bercanda bersama dengan kakakku di bulan ini. Tak ada yang istimewa.

Selain kenyataan bahwa aku belum siap berpisah lama dengan kakakku sendiri.

THE END

Yiha!

Akhirnya bisa juga ngancurin writer’s block yang mendekam terlalu lama di badanku ini *cailaah*

Kembali lagi dengan serial “Cuaca dan Benda Saling Berbisik” *beneran ini maksa banget namanya*. Cerita ini sengaja gak tercantum nama apapun, karena aku sendiri masih bingung ini yang main si Risya juga ato siapa. Ya udah, dianggap cerita selipan saja. Ato mungkin serial CBSB *?* bakal diisi dengan lebih dari satu tokoh utama. bisa aja. hahahhaa..xD

Moga gak terlalu mengecewakan ya. Jujur aku ngerasa cerita yang aku tulis beneran gak punya jiwa sama sekali, dan semakin lama semakin memprihatinkan wujudnya *madesu mode ON*

Satu lagi, cerita sebelumnya sengaja dikasih proteksi, karena ada beberapa hal dalam cerita itu yang diangkat dari pengalaman pribadi. ntar dikepoin sama orang yang dikenal jadi brabe *?*. Lagian, ga ada yang minat juga ya… #plak!

#ngilang

[Fragment] Pohon


Coba lihat puncak pohon di sana.

Kelihatan nggak sama kita-kita yang di bawah ini?

Enggak kan?

Padahal dia letaknya udah yang paling tinggi loh.

Yah, walau lebih kecil dari pada penopangnya.

Tunggu…penopang.

Penopang, sebut saja namanya dahan.

Dahan yang sama tinggi dengan kita itu bahkan lebih besar dari puncak pohon di atasnya.

Dia relakan dirinya di bawah, tapi sebenarnya dialah yang lebih dahulu merasakan kenikmatan air di dunia.

Si dahan, yang rela menjadi pijakan bagi orang-orang yang ingin menyambar bagian puncaknya.

Si dahan, penyalur nutrisi bagi temannya yang di puncak.

Tunggu, masih ada yang tertinggal.

Akar!

Dimana dia?

Mundur! Kau memijaknya!

Itu dia si akar. Dan masih ada teman-teman kembarannya yang tertancap di dalam tanah.

Walau si akar tak terlihat oleh kita, tapi si dahan dan si puncak tetap harus berterima kasih kepada si akar.

Bagaimana si dahan dan si puncak bisa berdiri kalau si akar tidak ada.

Tunggu, aku keliru.

Mereka saling bekerja sama.

Akar-dahan-puncak

Mereka saling melengkapi untuk kita.

Mengapa kita tidak?

Padang, 03 Muharram 1435

mencoba untuk berfilosofi ria