On Hiatus


Cerita2 berseri gak bakal dilanjutin lagi dalam waktu dekat sepertinya =-=”
dan mungkin, blog ini lebih diisi dengan curhatan gaje seorang koass labil penuh emosi dan kegalauan *?*
hitung-hitung melampiaskan uneg2 yang ditahan sampai ketemu koneksi kencang. haha
wassalam

 

[Fragment] Abulia – Anxietas


Oke, lemme tell you about the most mainstream condition and the most topic discussion in co-ass life :

Abulia

Abulia

Aku ngerasain fase abulia yang sedang menjangkiti sekarang ini adalah yang paling parah. Mau baca buku, bingung mau baca apa, mulai dari mana. Pas udah baca, rasanya gak nempel di otak. Pas rehat, buka internet lewat tab, mono. Dengerin lagu yang bikin semangat, eeh, malah tambah mono. Di luar hujan deras. Besok udah senin aja. Tugas masih belum rampung. Perut kosong, tapi bingung mau diisi apa. Kepikiran beli mie pangsit, tapi karena kejauhan, akhirnya beli mi rebus buat diseduh di rumah (sialan, ini makanan junk food gak bisa-bisa dikurangi). Pas nuangin isinya ke dalam mangkuk, ada yang berserakan. Mau mungut aja harus bengong dulu setengah menit. Habis itu nuangin air panas dari dispenser aja sambil menatap kosong ke arah tuas kerannya. Trus jalan dengan slow motion mode on.

Astaghfirullah.

Continue reading

Kelabu


Aku tak mengerti kenapa hujan kali ini terasa sedikit menyakitkan.

Kucoba tatap pendaran cahaya matahari, sedikit pudar karena dibiaskan oleh awan-awan gelap di atas sana. Di kala itulah aku tak dapat lagi menikmati senja seutuhnya. Padahal matahari hendak beranjak pergi dari singgasananya.

Payung semakin kugenggam erat. Bukan karena takut akan tetesan hujan, bukan. Hanya sekadar melindungi barang bawaan.

Entah mengapa menatap lurus ke depan pun aku tak sanggup. Menunduk seakan ada yang hendak kucari di bawah sana. Terhujam lurus ke bawah. Seperti hujan yang tak sanggup melawan gravitasi. Seperti hujan yang tak sanggup melawan perintah tanah yang kehausan karena kelakuan terik si matahari.

Sepertinya aku tak sanggup menatap masa depan. Masa di mana aku mungkin akan menertawai kebodohanku di masa lalu, yang tak lain di masa yang sedang kutempuh saat ini.

Sepertinya aku tak sanggup menatap masa depan. Masa di mana aku sudah menemukan hal yang baru, dan mungkin akan sangat menyesali mengapa aku begitu mati-matian mempertahankan hal yang belum sepenuhnya menjadi milikku sendiri.

Mempertahankan hal yang fana.

Mempertahankan hal yang tak mungkin dapat kuraih.

Mempertahankan dengan berbagai opini tanpa arti, hanya basa-basi.

Mempertahankan sang hujan. Padahal matahari sudah menanti tak sabar untuk menerangi dunia.

Mempertahankan si kelabu.

 

Padahal, si kelabu sedang mati-matian melupakan masa lalunya.

Menyedihkan

 

 

 

Pancaran Emosi dari Jiwa


Jujur aku merasa tergelitik sekaligus tersindir sama kehidupan di sini.

Mereka shalat lima waktu.
Pake shalat sunah rawatib pula.
Tepat waktu pula.
Berjamaah pula.
Ngaji pula.
Mana habis shalat baca asmaul husna pula
Bergaul berbagi ilmu pula.
Saling menghibur satu sama lain pula.
Saling membantu jika salah seorang di antara mereka ‘activity daily life’nya masih terganggu.

Tanpa bantuan perawat pula ibadahnya.

Sementara aku?

Padang, 3 September 2014